Jumat, 10 Juni 2011

mengapa doa tak kunjung dikabulkan


Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rizki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabulkan, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanyakan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah,

Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.[1]

bulan rajab


Asal Penamaan

Dinamakan bulan Rajab, dari kata rajjaba – yurajjibu yang artinya mengagungkan. Bulan ini dinamakan Rajab karena bulan ini diagungkan masyarakat Arab. (keterangan Al Ashma’i, dikutip dari Lathaiful Ma’arif, hal. 210)

Keutamaan Bulan Rajab

amat disayangkan

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlancar rizki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Minggu, 08 Mei 2011

Request buku segera !

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh,,

Diberitahukan kepada seluruh pengurus LSMI Al-Istiqomah maupun seluruh civitas muslim Fakultas Teknik UNTAN bahwa Kesekretariatan LSMI Al-Istiqomah akan menambah koleksi buku-buku islami di "Taman Bacaan Istiqomah"..

Bagi yang memiliki referensi buku-buku yang dapat menjadi koleksi buku baru di TB Istiqomah dapat menyebutkan judul buku tersebut dan rekomendasi singkat mengapa buku tersebut dapat menjadi koleksi buku Islami di TB Istiqomah..
InsyaAllah jika buku yang direkomendasikan tersebut ada dan layak untuk menjadi buku koleksi TB Istiqomah, maka buku tersebut akan didata dan akan dicari (dibeli) oleh Kesekretariatan Istiqomah..


Jika ada yang ingin memberikan donasi buku islami juga dapat menghubungi kestari Istiqomah..


Jazakumullah Khairan Katsiro atas perhatiannya..Marilah bersama2 menuntut ilmu dan memperbanyak amal kebajikan karena Allah..

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi wabarokatuh..

Sabtu, 30 April 2011

N.I.I sesat dan menyesatkan

oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Amdat
N.I.I adalah ahlul bid’ah dari firqah yang sesat dan menyesatkan. Mereka ini telah pecah menjadi berfirqah-firqah, salah satunya adalah Pesantren Al-Zaytun yang ada di Indramayu yang di ketuai oleh Abu Toto.

Di antara bid’ah-bid’ah N.I.I ialah:

1. Aqidah mereka yang sagat rusak sekali, sebagaimana di jelaskan oleh saudara kami Ustadz Suroso Abdussalam seorang mantan tokoh N.I.I di kitabnya ” N.I.I Dalam Timbangan Aqidah “. (1)

2. Kejahilan mereka dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

3. Tidak adanya ilmu diantara mereka, kecuali kebodohan yang telah ada di antara mereka yang diawali oleh pendirinya dan seterusnya hari ini terhadap ilmu agama. Oleh karena itu -dengan izin Allah- tidak sedikit di antara mereka yang keluar dari firqah sesat ini dan kembali kedalam ajaran Islam yang shahih yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menurut pemahaman para Shahabat.

4. Mereka mendirikan khilafah palsu dan mewajibkan kaum muslimin membai’at khalifah dan imamnya.

Bid’ahnya Ajaran-ajaran Bai’at (2)

Yakni, yang mewajibkan kaum muslimin berbai’at kepada khalifah-khalifah palsu dari mereka. Ajaran bai’at ini tidak syak lagi tentang bid’ahnya dan kejahilannya meskipun mereka menurunkan sejumlah hadits shahih di Bukhari dan Muslim. Akan tetapi mereka telah tersesat di dalam memahami hadits tanpa perantara ahli ilmu.

Karena yang dimaksud dengan bai’at dan membai’at seseorang ialah hanya kepada khalifah yang sah dari Quraisy untuk seluruh kaum muslimin dan apabila telah tegak daulah Islamiyyah.

Kalau hadits-hadits bai’at kita fahami sebagaimana pemahaman yang sesat dari kaum bai’at bersama khalifah atau imam palsu dan bayangan dari mereka, niscaya kapan saja dan siapa saja dapat dibai’at yang kemudian di angkat menjadi imam atau khalifah. Kalau demikian, alangkah banyaknya jumlah khalifah di dunia ini.

Oleh karena itu berdasarkan nash Al-Qur’an dan Sunnah bersama perjalanan para Shahabat, mengikuti ajaran bai’at adalah bid’ah dan kesesatan. Sebaliknya, meninggalkan ajaran bai’at berarti kita telah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.

5. Mereka membuat kelompok (firqah) dan memisahkan diri dari kaum muslimin, kecuali yang masuk ke dalam firqah mereka.

6. Bahkan sebagian dari firqah mereka telah meninggalkan shalat dan lain-lain ibadah atau kewajiban di dalam Islam dengan alasan masih berada di periode Makkah.

Disalin dari buku ” Risalah Bid’ah “ hal. 312-313 Oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ~semoga Allah menjaganya~ Penerbit: Pustaka Abdullah, Jakarta. (dengan sedikit edit kata dari admin)

Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

Footnote:

(1). Baca kitab ” N.I.I Dalam Timbangan Aqidah ” oleh saudara kami Ustadz Suroso Abdussalam, mantan pengajar N.I.I
(2). Disalin dari kitab yang sama pada hal. 316 poin 522. Bid’ahnya ajaran-ajaran bai’at (admin)

Rabu, 13 April 2011

Syetan Makan dan Minum dengan Tangan kiri



Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Jika salah seorang diantara kalian makan, hendaklah makan dengan tangan kanannya dan jika minum hendaklah minum dengan tangan kanannya, karena syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya”.

Amanah Berupa Wanita


oleh:Ustadz Aris Munandar

Dari Abu Syihab al Khayyath, beliau menuturkan bahwa beliau mendengar Sufyan ats Tsauri mengatakan, “Berilah aku amanah untuk menjaga satu rumah yang isinya penuh dengan uang. Namun janganlah kau beri aku amanah untuk menjaga seorang gadis berkulit hitam kelam yang tidak halal bagiku” [Dzammul Hawa karya Ibnul Jauzi hal 165].

Allahu Akbar, jika demikian yang dikatakan oleh Sufyan ats Tsauri padahal beliau adalah beliau dalam masalah ilmu, iman dan takwa –beliau adalah ulama besar di masa tabiin- lantas bagaimanakah yang layak untuk kita katakan hari ini?

Jika demikian untuk gadis hitam kelam yang pada dasarnya banyak laki-laki tidak tertarik padanya lantas bagaimana lagi gadis berkulit sawo matang atau lebih cerah lagi?

Jika demikian yang dikatakan oleh orang sekaliber Sufyan ats Tsauri untuk wanita di masa tabiin –yang tentu kita yakin kondisi agamanya jauh jauh lebih baik dari pada wanita zaman sekarang- lantas apa yang layak kita katakan untuk wanita zaman sekarang?

Jika demikian yang dikatakan untuk gadis hitam yang ‘berpakaian’ lantas bagaimana dengan gadis tidak berkulit hitam zaman ini yang sudah tidak lagi ‘berpakaian’?

Jika demikian dikatakan untuk gadis yang tidak berdandan lantas apa yang bisa kita katakan saat ini untuk gadis yang berdandan terlalu lengkap hingga tidak ubahnya bagaikan ondel-ondel?

Duh betapa cerobohnya para ibu dan ayah yang memberikan amanah berupa anak gadisnya kepada seorang laki-laki yang katanya pacar anaknya untuk diajak jalan-jalan entah kemana!!

Ampunan-Mu ya Allah, ampunan-Mu ya Allah.